Oleh : Andi Wirahadi Kusuma
Ketua KNPI Kota Palangka Raya
Kami Putra-Putri Indonesia,
Bertanah Air Satu
Tanah Air Indonesia
Berbangsa Satu
Bangsa Indonesia
Berbahasa Satu
Bahasa Indonesia
Kembali,
bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda. Tepatnya yang ke 79
tahun. Peristiwa sejarah, momen krusial yang dipenuhi spirit
persatuan dalam menapaki cita-cita merdeka secara defenitif layak untuk
terus dihayati dan diapresiasi para generasi penerus—baca; pemuda masa
sekarang.
Memang
sudah selayaknya kita belajar tentang kesungguhan perjuangan untuk
rakyat. Pemuda eksponen 1928 telah menegaskan bahwa kepentingan untuk
merdeka bagi semua rakyat atas penjajah adalah prioritas utama.
Heterogenitas ternisbikan oleh spirit bersatu. Para pemuda yang
dilingkupi dengan situasi keterbatasan dan ketertindasan mampu merancang
skenario masa depan bangsanya dengan amat cerdas.
Jelasnya keberanian untuk mengikrarkan kesatuan ini dilatarbelakangi
spirit hidup berbangsa untuk pencapaian kemerdekaan Indonesia secara
definitif terletak pada kemampuan menanggalkan egoisme kelompok dan
pribadi. Seluruh elemen mengagendakan visi politis strategis,
mematahkan ke-terkotak-kan bangsa akibat politik etis kolonial. Bahu
membahu membangun simbiosis mutualisme demi terciptanya kemerdekaan dan
kesejahteraan hidup berbangsa.
Bagaimana
dengan sekarang? Rasanya tidaklah tabu jika penulis memunculkan wacana
untuk memaknai kembali ruh suci sumpah pemuda sebagai wahana kontemplasi
sebelum bergerak maju menuntaskan agenda gerakan selanjutnya
Dalam kontek kebangsaan, menurut penulis gerakan pemuda sekarang terperangkap pada jebakan realitas dan pragmatisme.
Ormas pergerakan tak lebih menjadi alat untuk mepet pada pusat
kekuasaan. Buktinya, isu kenaikan BBM tak secara maksimal diperjuangkan
oleh gerakan pemuda. Isu KKN yang super canggih mengakar tak mampu
dihadapi oleh idealisme gerakan. Gerakan menjadi mandul dan miskin
terobosan brilian. Para pemuda tidak mampu membuat orientasi isu,
skenario gerakan yang membumi terhadap segala bentuk penyelewengan
penyelanggaraan negara. Mungkinkah benar apa yang pernah disampaikan
oleh Bung Rusman Ghazali bahwa para pemuda sesungguhnya telah gagal
menyelamatkan Sumpah Suci 28 Oktober 1928”?
Jika
memang demikian perlulah kiranya punggawa gerakan masa kini belajar dan
memaknai kembali Spirit Sumpah Pemuda 1928. Caranya Pertama,
menentukan common enemy dalam
aktivitas gerakan. Untuk kontek sekarang isu KKN masih layak dijadikan
target musuh bersama. Lihatlah para angkatan 28, mereka berhasil
berkonsolidasi dengan satu kata yakni persatuan yang terangkum dalam
trilogi. Selektifitas mereka yang cermat dalam menentukan isu dan
sistematika gerakan terbukti dalam sejarah. Gerakan pemuda masa kini
layak mempertimbangkan langkah yang sama. Berkonsolidasi menghadapi
sistem yang korup dalam sistem penyelenggaran negara. Daya hancur KKN
yang dasyat terhadap sendi berbangsa dan bernegara menjadi pembenar
untuk melakukan ’pemberangusan’ aktivitas KKN. Namun, gelombang dan
ritme gerakan harus diatur sedemikian rupa agar stamina tetap prima dan
merata disegenap pemuda nusantara.
Menurut
penulis, perlu sebuah ’silaturahmi akbar’ yang intens bagi segenap
elemen gerakan pemuda. Komunikasi dan penyatuan persepsi yang dibingkai
oleh permusuhan abadi terhadap KKN. Dan situasi yang kondusif serta
didukung perangkat teknologi komunikasi yang lengkap semakin memudahkan
proses pembumian isu gerakan. Sekaligus menentukan tokoh gerakan yang
mampu mempersatukan segenap elemen gerakan. Dan tokoh yang dimunculkan
haruslah di back up dengan tink tank yang
solid. Mengapa perlu dimunculkan tokoh baru, rasanya sosok-sosok tokoh
sekarang telah uzur untuk menanggung beban idealisme gerakan pemuda. Dan
jika menilik sejarah, pemuda-pemuda yang bersumpah tahun 1928 juga
memunculkan tokoh-tokoh ke ruang publik. Sekali lagi langkah strategi
pemuda tahun 28 layak dipertimbangkan.
Kedua,
membangun sikap loyal dan totalitas terhadap platform gerakan. Ini
sangat penting karena kawah candradimuka telah terkontaminasi dengan
virus KKN yang amat resisten disamping itu posisi pemuda yang saat ini
kian tereksploitasi oleh kepentingan penyelenggaraan yang menyeleweng
dari harapan rakyat. Soekarno, Hatta, H. Agus Salim, Soenario dan masih
banyak lagi memberikan contoh bagaimana loyalitas dan totalitas mereka
terhadap perjuangan yang tegak pada pondasi kebenaran dan keadilan.
Terakhir,
jelang pemilu 2009 biasanya pemuda akan laris bak kacang goreng.
Institusi parpol atau kelompok biasanya merekrut pemuda-pemuda potensial
untuk memperkuat jajarannya dalam menghadapi pesta demokrasi. Baik itu
sebagai pemikir atau hanya sebagai bemper pembenar kepentingan politik
sesaat. Ini menjadi ujian bagi gerakan pemuda yang berhasil belajar
kambali dan meresapi makna spirit Sumpah Pemuda yang ke 79 tahun ini.
Sebuah sunnatullah, himpitan arus idealisme pasti akan dibenturkan
dengan pragmatisme. Wallahu ’alam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar